Jumat, 05 Maret 2010

Boncel Sedih, Geol Gembira

Boncel sedang sedih. Hari ini sedih. Kemarin sedih. Kemarinnya lagi sedih. Kemarin dulu juga sedih. Besok kemungkinan besar bakalan sedih. Tidak tahu kenapa, Boncel selalu sedih. Padahal hari-hari yang dilalui selalu memberikan sesuatu yang baru. Matahari bersinar dengan cerahnya. Langit biru begitu bersih dan megah. Awan-awan berarak seperti kapas. Pohon-pohon berayun dan bergemerisik tertiup angin. Burung-burung terbang melayang berkelompok membentuk formasi yang kompak. Namun Boncel tetap bersedih hati.
“Mengapa kamu sedih, Boncel?” tanya Geol yang sedang menjilati makanan enak di depannya. Geol adalah teman sepermainan Boncel yang selalu tampak gembira apapun yang terjadi.
“Entahlah…” jawab Boncel pendek, singkat dan jelas.
“Pasti ada sebabnya… Kemarin kamu tampak sedih, kemarinnya lagi sedih, kemarin dulu juga sedih, besok kemungkinan besar kamu bakalan sedih lagi,” kata Geol panjang lebar.
“Sudah, kamu jangan menirukan narator seperti itu, bikin aku tambah sedih saja,” kata Boncel dengan agak kesal.
“Ha ha ha, Boncel… Boncel… kamu ini sedih tapi masih bisa melucu juga… ha ha ha,” sahut Geol dengan tawa berderai. Geol memang suka tertawa meskipun apa yang ditertawakannya sering tidak jelas dan kebanyakan memang tidak ada yang lucu. Hanya menurut Geol saja hal itu lucu.
“Aku heran sama kamu, Geol,” kata Boncel tiba-tiba,”Kok kamu bisa-bisanya selalu gembira dan gampang tertawa setiap saat. Apa sih rahasianya?” tanya Boncel kepada Geol yang saat ini lagi asyik bermain kejar-kejaran dengan kupu-kupu.
“Wah, apa ya? Aku tidak tahu, Cel… Tidak ada rahasia yang harus kusimpan..” jawab Geol sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gundul tapi tidak gatal karena bingung dengan pertanyaan Boncel.
“Hmmm, mungkin itu sebabnya… itu mungkin rahasianya kamu selalu tampak gembira, kamu tidak punya rahasia…” Boncel berkomat-kamit bak seorang filsuf sedang merumuskan kata-kata bijaknya sendiri.
“Dasar kamu, Boncel… Apa-apa selalu kamu pikirkan secara mendalam, mungkin itu sebabnya kamu selalu tampak sedih…. Sudahlah, jangan berpikir terlalu banyak, nanti cepat tua lho…” kata Geol menimpali kata-kata Boncel yang tidak dimengertinya.
“Bukan cepat tua, tapi cepat bosan… itu sebabnya aku sedih, Ol,” jawab Boncel membela diri.
“Ha ha ha… lagi-lagi kamu berdalih, dasar Boncel…” Geol kembali tertawa-tawa menikmati hal yang dianggapnya lucu.
“Tuh, kan… lagi-lagi kamu tertawa tanpa sebab yang jelas, Geol… Bagaimana caramu melakukannya?” tanya Boncel dengan mimik serius campur memelas karena saking sedihnya.
“Melakukan apa?” Geol balik bertanya dengan mimik bodohnya.
“Ya itu tadi, tertawa dengan enaknya… bagaimana caranya? Tolong ajari aku…” kali ini Boncel sungguh-sungguh memohon sampai hampir menangis.
“Waduh, kalau urusan mengajar itu bukan keahlianku, Cel. Tapi kalau aku ingin tertawa, aku tinggal tertawa saja… semudah mengedipkan mata atau membalik telapak kakiku sendiri,” Geol mencoba menerangkan sebisa mungkin kepada Boncel.
“Bagaimana bisa aku tertawa padahal tidak ada hal yang lucu?” tanya Boncel lagi.
“Yah, kalau kamu menganggap sesuatu itu lucu, maka sesuatu itu memang lucu… itu sih menurutku,” jawab Geol dengan memutar-mutar bola matanya karena sibuk memikirkan jawaban yang tepat.
“Hmmm, begitu ya… bagaimana kalau aku sudah mencoba tertawa tapi ternyata gagal?” pertanyaan terakhir Boncel terdengar sangat konyol bagi Geol tapi tidak bagi Boncel.
“Aku belum pernah mendengar ada yang gagal tertawa… tertawa garing sih pernah, tapi siapa peduli? Yang penting hati kita menjadi senang karena kita banyak tertawa… daripada sedih terus… tidak baik untuk kesehatan, tahu,” Geol mencoba menggurui Boncel dengan mimik wajah yang dibuat seserius mungkin.
“Ah, kata siapa?” sanggah Boncel tidak suka jika dia digurui oleh Geol.
“Entahlah, aku pernah dengar saja… hati yang gembira adalah obat yang manjur… begitu… lanjutannya aku lupa… hehehe,” jawab Geol kembali dengan mimik senang dan gembira.
“Hmmm, apakah dengan sekedar tertawa aku tidak akan sedih lagi?” tanya Boncel lebih kepada dirinya sendiri.
“Yah, coba saja!” jawab Geol.
Saat itu Geol sedang berlari berputar-putar mengejar ekornya sendiri. Tiba-tiba Geol terpeleset jatuh karena menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh seseorang atau seseekor. Buuuk!!! Begitu bunyi jatuhnya si Geol… Si Geol meringis kesakitan… Tiba-tiba saja, Boncel tertawa keras-keras. Hilang sudah air muka sedih yang telah menjadi ciri khasnya selama ini. Ternyata, begitu mudahnya Boncel tertawa tanpa harus dipaksa.
“Aduh, sakit nih… “ kata Geol sambil menjilati pantatnya sendiri.
“Ha ha ha ha ha…” Boncel tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Geol yang jungkir balik saat jatuh.
“Lho, kok kamu tiba-tiba tertawa seperti itu? Sudah tidak sedih lagi ya?” tanya Geol sambil meringis kesakitan.
“Iya, ternyata mudah sekali… aku tinggal memilih untuk tertawa, dan voilla… aku tertawa deh, jadinya,” jawab Boncel dengan masih tersenyum-senyum.
“Yah, baguslah kalau begitu… sering-sering saja tertawa, Cel!” kata Geol.
“Kamu juga sering-sering saja jatuh, Ol…” seru Boncel sambil melanjutkan tertawanya.
“Ha ha ha ha, lucu kamu!!!” sahut Geol.
“He he he he, kamu juga!!!” Boncel pun menyahut tidak mau kalah.
Akhirnya, hari itu, Boncel tidak lagi bersedih hati. Geol pun mendapat teman yang bisa diajaknya tertawa bersama-sama sehingga dia tidak lagi harus tertawa sendirian. Nanti dikira anjing gila, lagi… Kalo gila, nanti bisa menularkan penyakit rabies. Jangan sampai deh… Oh iya, sampai lupa. Boncel dan Geol adalah dua anjing peliharaanku yang selalu bermain bersama-sama di halaman belakang rumah, entah apa yang sering mereka mainkan. Tapi setiap kali aku melihat mereka, mereka selalu tampak asyik dengan dunia mereka sendiri. Yah, namanya juga anjing-anjing… Hehe…

Tidak ada komentar: