Selasa, 09 Maret 2010

God's Army

Kerinduan yang mendalam. Rindu akan suasana dan saat-saat seperti ini. Sore ini. Di ruangan yang sama. Berada bersama dengan teman-teman yang luar biasa. Grace merasakan dirinya hanyut dalam euphoria dan ekstase hadirat Tuhan yang begitu nyata saat ia melantunkan pujian dan penyembahan dengan berekspresi sebebas-bebasnya. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada rasa sungkan. Tidak ada lagi keharusan untuk membatasi ekspresinya. Semuanya mengalir. Semua tercurah. Tangisan. Tawa. Sukacita. Haru. Semua mengalir begitu indah, menjadi harmoni dalam hati yang terpancar keluar melalui penyembahan yang kudus. Grace kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan. Betapa Tuhan telah begitu baik padanya. Betapa Tuhan telah menjawab seru doanya. Betapa selama ini Grace begitu merindukan saat-saat seperti ini, bersama dengan Tuhan, selamanya. Dan tibalah saat-saat yang mendebarkan itu. Ketika suasana hadirat Tuhan semakin memuncak, dan Grace kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan betapa ia mencintai Tuhan, keluarlah dia. Kata-kata yang mengalir melalui lidahnya, yang pada mulanya pelan, lama kelamaan mengeras seperti dengungan lebah. Kata-kata yang tidak ada yang dapat memahaminya. Pertama-tama satu dua suku kata, kemudian bermunculan berbagai macam suku kata sehingga seperti membentuk kalimat dalam bahasa asing yang tidak dikenalnya. Bahasa Roh, itulah yang dikenal oleh Grace dan teman-temannya. Bukan hanya Grace yang mengeluarkan kata-kata asing dengan lidahnya. Melody, Bang Immanuel, dan beberapa orang turut mengeluarkan kata-kata asing itu. Suasana penyembahan menjadi riuh rendah oleh bunyi genjrengan gitar, senandung nada, dan bahasa Roh yang makin lama makin keras intensitasnya. Semua hanyut dalam penyembahan, tidak ada yang terkecuali. Entah mereka diam, menyanyi, berdiri, sujud, duduk, berbahasa Roh maupun bermazmur. Ruangan yang kecil itu menjadi penuh dengan hadirat kemuliaan Tuhan. Seperti kebut tebal yang menyelimuti seluruh ruangan. Begitu dahsyat dan luar biasa.
Tangisan dan tawa yang kudus memenuhi ruangan. Grace menangis dan sekaligus tertawa dalam hadirat Tuhan. Semua beban hatinya terangkat.
“Oh, terima kasih Tuhan… Terima kasih Bapa… Terima kasih Roh Kudus…” seru Grace. “Engkau baik…Engkau sungguh baik… Haleluya,” diserukannya berulang-ulang ungkapan terima kasih, pengagungan, dan penghormatan kepada TUHAN semesta alam, Yesus Kristus yang hidup.
Tangan Grace tiba-tiba bergetar tanpa dapat dikendalikannya. Getaran yang menggoncang badannya. Goncangan yang mengingatkan Grace akan kebesaran Tuhan. Grace ingat akan peristiwa Paulus dan Silas yang menyanyikan puji-pujian di penjara hingga terjadi persitiwa gempa bumi yang menggoncangkan sehingga pintu penjara terbuka. Grace yakin ini goncangan yang serupa dengan itu. Goncangan yang membebaskannya dari belenggu depresi yang selama ini mengikatnya. Grace merasakan kelepasan dan sukacita yang luar biasa.
Grace merasakan tangan Bang Immanuel menyentuh puncak kepalanya. Dan didengarnya Bang Immanuel berdoa dengan suara keras, “Ya Tuhan, Bapa kami, berkatilah anakMu Grace ini. Kiranya Engkau berikan kesembuhan dan pemulihan yang sempurna bagi jiwanya. Tidak ada lagi yang dapat mengikatnya dan menghalanginya untuk menyembahMu karena Engkaulah yang telah membebaskannya. Kami minta perlindungan darahMu, Tuhan Yesus, yang menyucikan dan mentahirkan Grace. Mulai saat ini Grace tidak lagi berada dalam baying-bayang depresi maupun sakit penyakit apa pun. Dalam nama Tuhan Yesus, amin!!!”
Betapa Grace merasa sangat dikuatkan oleh doa yang dinaikkan dan diimani bersama-sama itu. Malam itu menjadi malam milik Grace dan Tuhan. Seolah-olah persekutuan itu ada hanya untuk Grace. Semuanya seperti sudah diatur sedemikian rupa untuk membuktikan kepada Grace bahwa Tuhan masih sayang kepadanya.
“Tuhan Yesus, terima kasih… terima kasih...,” batin Grace penuh dengan ucapan syukur.
Melody kembali merangkul Grace dan memeluknya dengan erat. Grace merasakan hangatnya kasih yang terpancar dari Melody, mengisi relung hatinya. Dan kemudian Melody pun membisikkan kata-kata hikmat,” Tuhan berkata bahwa apa yang membuatmu takut itu telah disingkirkan oleh Tuhan. Jangan lagi merasa takut. Sebab engkau adalah anakNya yang amat sangat berharga. Mimpi-mimpi yang menakutkan itu tidak mengganggumu lagi sebab Tuhan melindungimu…” Grace takjub dengan ketepatan kata-kata yang disampaikan oleh Melody. Sekali lagi, Grace kagum akan karunia yang diberikan Tuhan kepada Melody. Karunia rohani yang sangat berguna pada saat yang tepat. Grace merasa sangat dikuatkan dan diteguhkan.
“Terima kasih, Tuhan… terima kasih, Melody,” kata Grace.
Dan penyembahan itu pun berlangsung dengan sempurna, menjadi dupa yang harum bagi kemuliaan Tuhan. Semua yang hadir mendapatkan menyegaran dan pembaharuan dalam hati mereka. Hari mereka kini telah siap untuk diisi dengan firman Tuhan. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Bang Immanuel begitu sederhana tapi sangat menguatkan iman dan menantang siapa pun juga untuk lebih lagi mengasihi dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh kuasa. Doa syafaat untuk kebutuhan-kebutuhan khusus dinaikkan bersama-sama. Grace begitu bersemangat mendoakan bangsa dan negara, gereja, dan pergumulan hidup anak-anak muda di kota Yogyakarta tercinta. Semuanya seperti telah kembali seperti sediakala. Malah lebih baik lagi. Grace merasa telah kembali ke tempat di mana dia seharusnya berada. Sungguh suatu persekutuan yang indah dan dahsyat luar biasa. Grace tidak menyesal telah memenuhi undangan Bang Immanuel.
Inilah God’s Army yang Grace banggakan. Sepasukan tentara Tuhan yang siap sedia selalu setiap waktu. Berperang bukan dengan senjata buatan manusia karena lawannya bukanlah darah dan daging, melainkan roh-roh jahat di udara. Senjata yang digunakan adalah selengkap senjata Tuhan. Puji-pujian dan doa syafaat merupakan spesialisasi pelayanan God’s Army. Puji-pujian yang sering dipandang remeh oleh jemaat Tuhan di gereja pada umumnya, ternyata di tangan anak-anak Tuhan yang tergabung dalam God’s Army dapat dipakai untuk memuliakan nama Tuhan dan menjadi senjata yang ampuh dalam peperangan rohani. Grace begitu menikmati semua yang dialaminya bersama God’s Army dulu. Dan sekarang dia telah kembali mengenakan kembali senjatanya, siap untuk peperangan rohani berikutnya. Ya, apa pun yang akan dihadapinya. Grace telah siap.

Tidak ada komentar: