Jumat, 05 Maret 2010

Sammy

Sudah setahun berlalu semenjak kejadian Grace menghilang dari rumahnya. Namun Sammy tak habis pikir. Sammy selalu kepikiran akan keponakannya yang satu itu. Lain dari keponakan-keponakannya yang lain, Grace ini mempunyai kepribadian yang unik, teramat sangat unik. Kalau anak-anak yang lain pada umumnya gemar bermain bersama, berlari-larian, berceloteh ke sana ke mari, Grace lebih sering terlihat menyendiri sambil membaca atau menulis. Banyak yang menyangka Grace itu sedikit asosial atau lebih parahnya, autis. Namun Sammy tahu, Grace bukanlah anak yang autis. Grace di mata Sammy memang sedikit introvert, tapi di balik semua itu Sammy menyadari bahwa Grace sebenarnya anak yang cerdas. Bahkan kecerdasannya sepertinya di atas rata-rata anak seusianya. Kecerdasan itu akan tampak saat Grace membuka suaranya untuk berbicara. Gaya bicaranya lain daripada yang lain. Tidak seperti kebanyakan anak perempuan yang cerewet dan centil, Grace berpembawaan tenang dan tampak lebih dewasa daripada usianya. Semua isi pembicaraannya sarat akan pengetahuan dan makna, sudah pasti karena buku bacaan yang dibacanya amatlah beragam. Dan lebih dari itu, pemikiran Grace pun sangatlah luar biasa unik. Apalagi Grace senang menulis. Sammy melihat minat dan bakat yang amat besar dalam diri Grace terutama di bidang tulis-menulis. Beberapa tulisan lepas Grace pernah dibaca oleh Sammy, kebanyakan bertema Ketuhanan dan keimanan. Tak habis-habis Sammy mengagumi tulisan-tulisan Grace yang orisinil itu.
Sammy ingat, sekitar setahun yang lalu, Grace ikut tergabung dalam kelompok pelayanan anak muda yang bermarkas di dekat rumahnya, di daerah Iromejan. Kelompok pelayanan yang amat sangat dinamis dan radikal. Mereka sering mengadakan persekutuan doa bersama setiap hari Senin, dan sering mengisi acara kebaktian setiap Sabtu sore di Gereja Kristen Jawa Gondokusuman yang sedang terbuka akan hal-hal baru terutama dalam corak ibadahnya. Waktu itu memang sedang maraknya ibadah dengan gaya yang lebih dinamis dan sesuai dengan pribadi anak muda yang dinamis. Bukan lagi diiringi dengan organ atau electone tunggal dalam ibadahnya, tapi dengan band lengkap dengan drum, gitar elektrik, kibor, dsb. Musiknya tidak lagi syahdu mendayup-dayu (yang sering membikin orang ngantuk) tetapi hingar bingar oleh gedebuk drum dan lengkingan distorsi gitar. Benar-benar seperti langit dan bumi perbedaan suasana ibadah hari Minggu dengan hari Sabtu sore di gereja itu.
Sammy yang waktu itu menjadi majelis gereja sebenarnya merasa agak jengah dengan adanya kebaktian Sabtu Sore yang terlalu dinamis itu. Menurutnya, kebaktian itu sudah tidak lagi ‘njawani’. Sammy tahu bahwa anak muda memang sangatlah dinamis dan suka sesuatu yang baru tetapu tetap saja dia merasa tidak terlalu nyaman dengan format band yang ada di kebaktian Sabtu Sore. Sebagai majelis, dia bisa saja mengajukan keberatan dan mengusulkan untuk membubarkan saja kebaktian Sabtu sore atau menggantinya dengan format yang lebih formal seperti biasanya. Tapi niat itu diurungkannya setelah dilihatnya Grace sang keponakan tersayang ternyata ikut ambil bagian dalam kebaktian Sabtu Sore. Sammy sering melihat Grace ikut ambil bagian dalam doa syafaat di depan mimbar. Bukan Grace namanya kalo tidak membuat sesuatu yang luar biasa. Sammy suka sekali mendengarkan doa-doa syafaat yang dipanjatkan oleh Grace waktu itu. Lain dari pada yang lain, Grace selalu memanjatkan kalimat-kalimat doanya dengan tanpa tedeng aling-aling, langsung ke sasaran, terkadang menghentak dan membakar semangat, dan seolah mengguncang surga dan neraka sekaligus. Sammy merasakan ada kuasa dan urapan yang dahsyat dalam setiap doa Grace, padahal Sammy tahu bahwa kata-kata yang digunakan oleh Grace adalah kata-kata biasa yang sederhana. Tapi dalam kesederhanaan itulah Sammy merasakan adanya kedekatan dengan Tuhan yang menggetarkan hati siapa saja yang mendengarkannya. Oleh karena rasa sayang dan kagumnya terhadap Grace, maka Sammy tidak jadi menggugat kebaktian Sabtu Sore.
Namun akhirnya Sammy kembali menyatakan kesangsiannya terhadap kebaktian Sabtu Sore karena tiba-tiba saja dia mendapati Grace mengalami stress berat. Itu kata dokter jiwa yang merawat Grace setelah Grace ditemukan di rumah Ibu Isadora setahun yang lalu. Entah bagaimana asal mulanya, Grace yang hebat dan cerdas itu tiba-tiba menjadi Grace yang gelisah dan agresif. Grace yang tadinya cenderung introvert itu menjadi sangat ekstrovert yang berlebihan, seperti bukan Grace saja. Keluarga Grace sangatlah bingung. Apa yang menyebabkannya tidak ada yang tahu. Dan di sinilah Sammy mengeluarkan hipotesanya, yaitu bahwa Grace terlalu dalam dan larut dalam kegiatan keagamaan yang selama ini digelutinya bersama teman-teman persekutuannya. Sammy berpendapat bahwa Grace terlalu dibebani oleh hal-hal yang terlalu berat yang berhubungan dengan Tuhan. Oleh karena itu, Sammy pun mengusulkan kepada keluarga Grace untuk mengkarantina Grace dari kegiatan-kegiatan keagamaan untuk sementara waktu. Dan kebaktian Sabtu Sore menjadi hal yang tabu bagi keluarga Grace untuk dibicarakan. Sammy yakin, kebaktian Sabtu Sore itulah yang menjadi penyebab stresnya Grace.
Setahun berlalu. Kondisi Grace sudah lebih tenang. Tapi keceriaan dan semangat yang dulu ada pada Grace sekarang seolah menguap entah ke mana. Sammy prihatin dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia sekarang sudah tidak lagi menjadi majelis gereja karena rumahnya telah pindah ke daerah Kasongan Bantul. Sammy tidak lagi mengikuti perkembangan persekutuan doa anak muda di Iromejan. Dan tentang Grace, Sammy sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan dan keluarga Grace. Otomatis karena rumahnya jauh dari rumah Grace, Sammy tidak lagi tahu bagaimana kondisi Grace saat ini.
“Mungkin aku perlu sesekali datang menengok Grace,” begitu pikir Sammy. Dan pikirannya ternyata disetujui oleh Marry, istrinya. Mereka pun sepakat untuk mengunjungi Grace di rumahnya suatu saat nanti untuk melihat perkembangan kondisinya.
“Grace, tunggu kami ya…,” batin Marry.

Tidak ada komentar: