Jumat, 12 Maret 2010

Semangat Baru-3

Sore yang dinantikan pun tiba. Grace kembali menghadiri persekutuan GA di Iromejan. Sore itu giliran Grace yang menceritakan kesaksian hidupnya, apa saja yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidupnya selama ini. Grace pun mulai bercerita. Ia menceritakan sebagian kisah hidupnya, khususnya bagaimana ia mengalami stress berat, sejauh yang bisa diingatnya. Bagaimana awal mulanya Grace bisa jatuh sakit setahun yang lalu, Grace sendiri tidak begitu mengetahui sebabnya. Ia hanya tahu bahwa tiba-tiba saja ia mempunyai berbagai macam pikiran aneh yang mendorongnya dengan begitu kuat untuk melakukan hal-hal di luar batas kewajaran. Dengan tulus Grace meminta maaf kepada teman-teman GA, terutama kepada Bang Immanuel, karena ia telah melakukan hal-hal yang membuat mereka malu dan dituduh macam-macam oleh keluarga Grace.
“Tuhan telah begitu baik padaku dan telah membuktikan kasih setiaNya dengan memulihkanku dan mengembalikanku seperti sedia kala. Aku minta maaf telah merepotkan teman-teman semua dan membuat nama GA menjadi tercoreng. Semoga kesaksianku ini dapat menjadi berkat buat kita semua,” Grace mengakhiri kesaksiannya dengan diikuti oleh teput tangan dari semua anggota GA. Semua telah menyimak baik-baik kesaksian Grace tanpa ada yang menyela. Dan semua telah mendapat berkat dari kesaksian itu.
“Ya itu tadi kesaksian dari Grace,” kata Bang Immanuel kemudian. “Memang betul bahwa Tuhan itu begitu baik dan setia kepada kita, meskipun kita tidak setia Dia tetap setia. Salut buat Grace yang berani terbuka dan menceritakan pengalaman yang bisa dibilang menjadi aib dalam kehidupannya. Tapi bersama Tuhan, apa yang tadinya dianggap sebagai aib itu dapat menjadi indah pada waktuNya.”
Setelah Grace, beberapa orang bergantian menceritakan pengalamannya dengan diakhiri oleh komentar dan kesimpulan dari Bang Immanuel. Kemudian acara persekutuan dilanjutkan dengan pujian dan penyembahan seperti biasanya , firman Tuhan yang disampaikan oleh Bang Immanuel, dan diakhiri dengan doa-doa syafaat. Semua berjalan dengan lancer dan semarak.
“Grace, bisa ngobrol-ngobrol sebentar nggak?” tanya Bang Immanuel saat acara sudah selesai dan Grace sudah bersiap-siap hendak pulang.
“Yah, asal nggak terlalu lama, Bang,” jawab Grace.
“Nggak lama kok, paling cuma 15 menit,” kata Bang Immanuel.
“Ok. Mau ngobrol apa Bang?”
“Mulai dari mana ya?”
“Nggak usah bingung, Bang,” kata Grace dengan tertawa kecil.
“Hehe, gini Grace… Kira-kira sebulan yang lalu, abang ngobrol sama Melody. Melody sebenarnya yang ngajak.”
“Terus?”
“Terus intinya, Melody ngasih tahu abang kalau waktu itu Grace sedang ada masalah. Berhubungan dengan mimpi yang mengganggu. Melody menunjukkan SMS yang Grace kirim pagi-pagi.” Grace mendengarkan tanpa menyela. “Memangnya ada masalah apa, Grace?”
“Wah, aku sudah agak lupa, Bang,” jawab Grace jujur.
“Coba diingat-ingat lagi,” bujuk Bang Immanuel.
“Apa ya? Sudah sebulan yang lalu sih, aku sudah agak lupa karena sibuk kuliah juga.”
“Ya sudah kalau begitu,” kata Bang Immanuel. “Tapi kalau tiba-tiba ada masalah atau kamu ingat akan masalah itu, jangan ragu-ragu untuk cerita, ya. Bisa ke Melody, Martin, abang, atau siapa saja yang Grace percaya. Pokoknya jangan dipendam sendiri, biar nggak stress lagi. Ok?”
“Ok, Bang,” jawab Grace.
“Sudah, itu saja yang abang ingin sampaikan. Kalau mau pulang sekarang, silakan aja. Hati-hati di jalan ya…” kata Bang Immanuel.
“Baik, Bang. Aku pulang dulu ya. Shallom!”
“Shallom!”

Tidak ada komentar: