Selasa, 09 Maret 2010

Grace III

Datang. Tidak. Datang. Tidak. Grace bingung. Bimbang. Perlukah dia datang ke persekutuan God’s Army sore itu, setelah setahun tidak pernah terlibat dalam aktivitas apa pun selain kuliah, setelah apa yang dialaminya setahun yang lalu. Grace merasa malu dan tidak layak. Beberapa kenangan yang membuatnya malu terlintas kembali dalam benaknya. Bagaimana di gereja dia seperti orang yang hilang kendali, berlari ke sana ke mari dan melompat-lompat di tengah-tengah kebaktian Sabtu sore. Rasanya begitu penuh dengan energi yang harus disalurkan dan diluapkan. Euforia yang amat sangat dahsyat. Benar-benar membuat Grace tak habis pikir. Grace yang biasanya kalem dan cenderung pendiam itu bisa menjadi begitu terbuka dan sangat lincah. Dari introvert menjadi sangat ekstrovert. Itu semua terjadi sebelum kejadian Grace kabur dari rumah. Begitu rumit dan membingungkan. Grace tidak mau mengingatnya lagi. Sudah cukup.
“Bu, aku mau ke persekutuan GA di Iromejan sore ini…” kata Grace meminta izin kepada Putri, ibunya.
Putri diam sejenak, berpikir. Kemudian berkata, “Coba tanya ke bapak ya, boleh apa enggak…”
Grace pun dengan enggan bertanya kepada Gunawan, ayahnya, “Pak, aku mau ke persekutuan GA di Iromejan…”
Diam. Kemudian, “Jam berapa?”
“Jam lima sore ini…”
“Tapi langsung pulang ya, setelah selesai acaranya,” kata Gunawan sambil membaca koran.
Grace masih terheran-heran dengan izin yang diberikan oleh orang tuanya. Selama setahun ini Grace tidak pernah diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan persekutuan apa pun di luar kegiatan yang berhubungan dengan kuliah. Grace hanya diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan persekutuan di PMK saja. Itu pun hanya mengikuti acara Persekutuan Umum tiap Jumat. Sangat jauh berbeda suasananya dengan persekutuan GA sehingga membuat Grace agak canggung dan kurang nyaman. Di persekutuan GA, Grace bisa bebas berekspresi dalam memuji dan menyembah Tuhan. Sedangkan di persekutuan umum PMK, Grace harus sedikit menahan diri untuk tidak terlalu berekspresi karena mengingat latar belakang denominasi gereja yang bermacam-macam dari teman-teman kuliahnya. Benar-benar membuat Grace kurang nyaman dan kurang bebas. Tapi semua itu dijalaninya demi mendapatkan secercah penghiburan dan penyegaran rohani.
Sesampai di Iromejan, di rumah kontrakan Bang Imanuel, Grace takjub dengan banyaknya anak muda yang telah berkumpul di ruangan yang agak sempit. Ada banyak orang yang belum pernah dikenalnya selama ini, tapi ada beberapa orang yang dikenalnya, termasuk di antaranya adalah Bang Immanuel, Martin, dan Melody. Dilihatnya mereka sedang asyik ngobrol dan bercanda. Grace merasa canggung untuk masuk ke dalam ruangan itu.
“Haloooo, Grace…!!!” suara Bang Immanuel tiba-tiba memecahkan suasana. “Ayo masuk! Kita sudah lama nih nungguin…”
Dengan malu-malu dan agak kikuk Grace pun masuk. Grace menebar senyum yang agak dipaksakan ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi oleh wajah-wajah asing.
“Kenalkan, ini semua anak-anak yang baru gabung setelah Grace lama pergi dan gak ada kabarnya,” kata Bang Immanuel dengan penuh semangat. Satu per satu dikenalkannya mereka kepada Grace.
“Ini George... Donny… Maria… “ masing-masing mengulurkan tangannya menjabat tangan Grace sambil tersenyum hangat, Grace kesulitan mengingat nama-nama mereka satu per satu.
“Ok, Grace, selamat datang kembali,” kata Bang Immanel. “Semua, ini Grace kakak kalian yang telah hilang dan sekarang telah kembali,” terdengar suara tepukan tangan meriah dan sambutan yang begitu hangat. Grace merasa agak terharu.
Diliriknya Martin dan Melody yang juga sedang memandanginya dengan pandangan yang agak kikuk. Sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu. Dan sekarang mereka bertemu kembali dalam suasana persekutuan seperti yang dulu sering mereka alami bersama. Grace tersenyum pada Martin dan Melody, Martin dan Melody pun membalas senyum Grace. Tiba-tiba Melody memeluk Grace. Tanpa kata mereka saling berpelukan. Semua yang melihat adegan itu tak dapat menahan rasa haru.
“Grace, maaf ya, aku nggak pernah menghubungimu selama ini…” bisik Melody. Grace hanya mengangguk tak mampu berkata-kata karena begitu besar rasa haru dan rindunya pada sahabatnya itu.
“Grace, maafkan kami ya, kalau selama ini kami nggak bisa memahamimu…” kata Martin yang ikut mendakti Grace dan Melody yang masih berpelukan.
Pertemuan kembali ketiga sahabat karib itu telah membuat suasana di rumah kontrakan Bang Immanuel menjadi amat indah. Sesuatu telah bangkit kembali, semangat yang baru, hati yang telah diperbarui, pemulihan, dan rekonsiliasi yang manis. Grace ingin sekali membuat saat-saat seperti itu menjadi abadi dan tidak akan pernah berlalu.

Tidak ada komentar: