Kamis, 11 Maret 2010

Semangat Baru

Sebulan telah berlalu sejak Grace kembali bergabung dengan God’s Army. Grace tidak lagi hanya berkutat dengan kuliah yang penat dan membosankan. Kali ini Grace punya hal lain yang menyenangkan hatinya yang bisa menjadi tempat pelariannya sekaligus penawar kerinduan hatinya yang paling dalam. Semacam pengalih perhatian dari kenyataan yang tidak terlalu menyenangkan. Sejujurnya, Grace merasa kemungkinan dia telah salah memilih jurusan kuliah karena Grace merasa kewalahan dengan beban mata kuliah yang harus diambilnya. Tidak seperti ketika saat di bangku sekolah dulu di mana Grace masih bisa mengikuti dinamika yang ada. Kali ini Grace harus memeras otaknya sedemikian rupa hanya untuk memahami apa yang dia pelajari. Benar-benar pekerjaan yang menyiksanya. Tidak menyenangkan. Maka dari itu, hari Senin sore merupakan saat-saat yang paling ditunggunya di mana Grace bisa melepaskan segala kepenatannya dalam penyembahan yang begitu ekspresif di persekutuan GA.
Semangat Grace terpompa seiring semakin intensnya ia larut dalam kegiatan-kegiatan God’s Army. Rasa lelah dan penat sehabis kuliah dan praktikum tergantikan dengan sukacita dan euphoria yang dirasakannya saat mengikuti persekutuan GA. Prioritas hidupnya tersusun kembali dengan persekutuan GA berada di tempat teratas. Bagi Grace, persekutuan itu lebih penting nilainya daripada kuliah. Bahkan Grace merasakan hubungan dengan teman-teman persekutuan itu lebih erat dan dalam daripada hubungan dengan keluarganya sendiri di rumah. Entah ini benar atau tidak, pikir Grace. Untuk sementara ini Grace tidak mau membebani pikirannya yang masih agak labil itu dengan hal-hal yang memusingkan dan membingungkannya.
Yang paling melihat perubahan yang terjadi dalam diri Grace adalah kedua orang tua Grace, Putri dan Gunawan, terutama Putri. Dalam hat, Putri merasa bersyukur sekaligus kuatir. Bersyukur karena kini Grace kembali bersemangat dan ceria, tidak lagi loyo dan tanpa tenaga. Meskipun komunikasi yang terbuka masih belum ada antara dirinya dengan Grace, Putri amat bersyukur pada Tuhan atas perubahan ini. Namun Putri juga sedikit kuatir akan prioritas hidup Grace yang nampaknya agak menyepelekan kuliahnya. Kuliah Grace yang membutuhkan konsentrasi dan ketekunan serta kedisiplinan tinggi dalam belajar itu mana boleh ditinggalkan atau diabaikan. Padahal selama sebulan ini Putri melihat Grace terlalu asyik mengikuti kegiatan persekutuan GA sampai malam dan kalau sudah pulang biasanya Grace langsung tertidur tanpa sempat belajar apa-apa lagi. Putri prihatin dan kuatir Grace akan ketinggalan dalam studinya.
Suatu pagi, ketika Putri punya kesempatan untuk ngobrol berdua saja dengan Grace, Putri menyampaikan kegelisahannya itu. “Grace, ibu cuma ingin menasihati…” kata Putri yang dibalas dengan tatapan Grace yang tanpa menunjukkan emosi apa-apa, datar. “Kalau ikut persekutuan sih boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu larut atau asyik sehingga melupakan tugas belajarmu yang utama. Boleh kamu punya hobby atau kesenangan, tapi kamu juga harus ingat bahwa kamu masih hidup dalam dunia nyata.”
“Iya, iya…” dengus Grace agak kesal. Dalam hati Grace ingin berkata kepada ibunya bahwa persekutuan itu merupakan pilar yang menjaganya untuk tetap hidup dan bersemangat. Tanpa persekutuan, maka hidup akan terasa hampa. Apa gunanya kuliah sukses tapi dirinya tidak merasa sukacita? Tapi semua itu tidak disampaikan oleh Grace karena selama ini memang ada semacam tembok tidak kelihatan yang memisahkan antara Grace dengan Putri. Grace dapat merasakan hal itu, demikian juga Putri, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk menembus atau menghancurkan tembok yang ada tersebut.
“Pak, sepertinya kita perlu membatasi kegiatan Grace di luar kuliahnya,” kata Putri kepada Gunawan ketika Grace sedang tidak ada di rumah.
“Maksudmu kegiatan persekutuannya di Iromejan itu?” tanya Gunawan.
“Yang mana lagi?” Putri balik bertanya. “Aku kuatir kuliah Grace bakalan keteteran.”
“Yah, selama Grace masih bisa menikmati hidupnya dan tidak terjadi apa-apa, aku sih tidak keberatan Grace ikut kegiatan apa pun.”
“Tapi aku lihat sepertinya Grace mulai salah menaruh prioritas,” kata Putri dengan nada tidak sabar melihat reaksi suaminya yang terlalu santai itu.
“Grace kan sudah besar, sudah bukan hak kita lagi untuk ikut campur dengan urusan-urusannya,” balas Gunawan masih dengan nada santai seolah tidak terlalu peduli akan kegusaran Putri.
“Tapi Pak…”
“Sudah… percayakan saja pada Grace… katanya kita orang Kristen harus percaya dan berserah pada Tuhan… buktikan dong…” kata Gunawan dengan nada yang agak menyindir. Selama ini memang Gunawan sering disindir oleh Putri karena kurang menunjukkan keimanannya, maka kali ini Gunawan balik menyindir Putri.
Putri tidak lagi menjawab. Hanya mendengus kesal dengan sindiran Gunawan. Huh, memangnya siapa yang tidak beriman, batin Putri. Ingin rasanya membalas Gunawan dengan sindiran yang lebih tajam lagi, tapi Putri menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana. Masih bagus mereka masih bisa berkomunikasi meskipun dingin dan tidak ada kemesraan di dalamnya, daripada harus bercerai seperti apa yang hampir saja terjadi beberpaa tahun yang lalu, saat Grace masuk SMP.
“Ya Tuhan, tolong ampuni aku dan suamiku…” batin Putri. Putri masih merasa bersalah karena hampir retaknya hubungan antara dia dengan Gunawan itu mungkin menyebabkan luka hati yang permanen pada diri Grace sehingga memutuskan hubungan komunikasi yang mesra dalam keluarganya. Seandainya James, anak sulungnya di sini, tentu suasana akan menjadi lebih hangat dan menyenangkan, pikir Putri.

Tidak ada komentar: