Sabtu, 13 Maret 2010

Masalah-3

Siang sehabis kebaktian gereja, Grace dan ketiga temannya pergi bersama-sama ke Puri Nirmala menengok kak Salomo. Mereka membawa oleh-oleh berupa kue-kue kering. Dengan mengendarai Escudo yang dikemudikan oleh Grace, mereka berempat meluncur ke Puri Nirmala di daerah Pakualaman kota Jogja yang teduh oleh rimbunnya pohon-pohon beringin di alun-alun. Puri Nirmala merupakan rumah sakit khusus untuk merawat orang-orang dengan gangguan jiwa. Bangunanya dari luar tampak asri dan nyaman, bercat dan berpagar putih, dengan halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Ada dua unit yang letaknya berdekatan. Kak Salomo dirawat di unit satu. Setelah memarkir mobil Escudonya, Grace dan teman-temannya meminta izin ke penjaga Puri dan mereka pun diperbolehkan masuk menjenguk Kak Salomo.
Di dalam Puri terdapat pelataran yang cukup luas dikelilingi oleh kamar-kamar tempat para pasien dirawat. Ada satu pohon yang cukup rindang di tengah-tengah pelataran. Di bagian barat pelataran adalah ruangan tempat para pegawai Puri Nirmala mengerjakan pekerjaan mereka, menjaga dan mengawasi. Di pelataran dan di kamar-kamar tersebut tampak para pasien sedang duduk-duduk. Ada yang melamun, ada yang ngobrol, ada yang tidur-tiduran. Grace dan teman-temannya mencari di mana kak Salomo berada. Setelah bertanya kepada seorang perawat berseragam kuning, mereka pun segera menuju ke ruangan kak Salomo yang ternyata berada di bagian belakang Puri.
Kak Salomo tampak sedang duduk-duduk di serambi ruangannya. Ruangan kak Salomo tampaknya merupakan ruangan kelas 1 atau VIP, agak berbeda dan sedikit eksklusif jika dibandingkan dengan ruangan-ruangan yang ada di pelataran depan. Kak Salomo sedang membaca-baca majalah, ditemani oleh seorang anggota keluarganya, mungkin kakaknya. Grace dan teman-temannya mendekati kak Salomo.
“Selamat siang, Kak!” sapa mereka. Kak Salomo yang sedang asyik membaca menghentikan kegiatannya dan menoleh pelan ke arah pemanggilnya.
“Eh, kalian…” balas kak Salomo pelan, dengan ekspresi yang tampak sedih.
“Apa kabar, Kak?” tanya Fifi. Kak Salomo tidak segera membalasnya. Ia malah melanjutkan kembali membaca majalah.
“Maaf, adik-adik ini siapa ya?” tanya orang yang duduk di sebelah kak Salomo.
“Kami ini adik angkatan kak Salomo, salam kenal…” kata Yesi dengan ramah. “Maaf kalau kami mengganggu, kami ingin tahu keadaan kak Salomo.”
“Wah, senang sekali Salomo ada yang memperhatikan begini. Saya kakaknya Salomo, kenalkan, Ezra,” kata orang tersebut sambil menjabat tangan Grace dan teman-temannya satu per satu.
Kak Salomo yang sedang membaca tiba-tiba meninggalkan mereka berlima dan masuk ke kamarnya. Tidur. Ezra cuma menggeleng-gelengkan kepalanya, sedih.
“Yah, begitulah keadaan Salomo sekarang,” kata Ezra. “Jarang berbicara, seharian cuma diam dan banyak tidur. Kata dokter yang menangani, Salomo sedang depresi berat.”
“Depresi?” tanya Nita tiba-tiba. “Kalau boleh tahu, kenapa kak Salomo bisa depresi ya? Selama ini kami mengenal kak Salomo selalu ceria dan banyak tertawa.”
“Entahlah…” Ezra mengangkat bahu. “Tiba-tiba kami sekeluarga mendapat kabar bahwa Salomo ditemukan tidak sadar di tempat kostnya. Kami pun segera ke Jogja dan membawa Salomo ke tempat ini untuk mendapatkan perawatan.”
“Tidak sadarkan diri? Maksudnya pingsan atau bagaimana?”tanya Nita.
“Entahlah. Ketika kami tiba di rumah kostnya, yang kami temukan Salomo sedang diam melamun dan mematung, seolah tak menyadari kehadiran siapa pun di dekatnya. Padahal ada dua orang temannya yang juga menemaninya waktu itu. Mereka sama-sama bingung dengan kondisi Samuel.”
“Siapa dua orang teman kak Samuel itu?” tanya Nita lagi.
“Kalau tidak salah namanya Christ dan Robby. Mereka teman-teman seangkatan Salomo,” jawab Ezra. “Kalian kenal?” tanyanya pula.
“Tentu saja kami kenal. Mereka juga anggota PMK, kakak angkatan kami,” jawab Fifi.
“Merekalah yang menganjurkan supaya Salomo dirawat di Puri Nirmala ini sampai kondisinya membaik. Untunglah, Salomo mempunyai teman-teman yang begitu baik dan peduli padanya,” kata Ezra.
“Tentu saja. Kak Salomo kan oraangnya sangat ramah dan pandai,” kata Fifi sambil tersenyum bangga. “Dia pula yang mengajari kami kalau kami ada kesulitan belajar.”
“Wah, aku tidak tahu kalau Salomo sebegitu dicintai oleh orang banyak,” kata Ezra terkagum-kagum.
“O iya, apa saja yang ditemukan bersama kak Salomo waktu itu? Terutama waktu dia ditemukan tidak sadar, entah apa maksudnya dengan tidak sadar…” kata Grace yang sedari tadi diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa ya? Aku kurang tahu tentang itu. Yang aku tahu, Salomo sedang mengerjakan skripsinya. Coba saja tanya ke dua orang temannya, Christ dan Robby,” jawab Ezra sambil melirik ke arah Salomo yang sedang tertidur lelap.
“Apa selama ini kak Salomo pernah bercerita tentang masalah yang dihadapinya, Kak?” tanya Grace lagi.
“Tidak. Salomo tidak pernah menceritakan apa pun masalahnya. Dia terkenal sebagai anak yang cukup kreatif dan cerdas, semua masalah selalu dapat diatasinya sendiri. Akhir-akhir ini dia jarang menghubungi kami keluarganya karena sedang membuat skripsi tugas akhirnya. Padahal dia baru semester lima, tapi sudah mulai mengerjakan skripsinya mendahului rata-rata semua teman seangkatannya. Benar-benar anak yang rajin.”
Semua terdiam untuk beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Terutama Grace. Dia begitu hanyut dalam pikirannya karena terdorong oleh perasaan empati yang sangat dalam. Bagaimanapun juga, Grace pernah mengalami depresi dan dia tahu bagaimana rasanya depresi itu. Grace begitu terdorong untuk menolong kak Salomo, apa pun yang dia bisa lakukan.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Kemudian setelah dilihatnya bahwa kak Salomo tidak bangun-bangun juga dari tidurnya, Grace dan teman-temannya pun pamit mohon diri. Tak lupa oleh-olehnya diserahkan kepada Ezra yang menerimanya dengan senyum hangat.
“Terima kasih, ya, adik-adik. Nanti aku sampaikan ke Salomo oleh-olehnya. Maaf atas sikap Salomo. Yah, kondisinya memang masih belum begitu baik,” kata Ezra sambil menjabat tangan Grace dan teman-temannya sebagai ungkapan perpisahan dan terima kasih.
“Sama-sama., Kak. Kami yang minta maaf kalau mengganggu istirahat Kakak dan Kak Salomo. Kami mohon pamit. Tuhan Yesus memberkati,” kata Fifi mewakili teman-temannya. Ezra agak terkejut dengan ucapan berkat itu dan dengan agak canggung membalasnya dengan anggukan kecil dan senyuman.
Grace dan teman-temannya pun kembali ke rumah masing-masing, satu per satu diantar oleh Grace dengan Escudonya. Ketika sudah sendirian di mobil sambil menyetir, Grace berdoa keras-keras kepada Tuhan. “Bapa, tolong kami untuk bisa menolong kak Salomo, please!” Kemudian Grace pun hanyut dalam pujian dan penyembahan pribadi bersama kaset pujian yang diputarnya. Hari Minggu itu berlalu dengan meninggalkan banyak pertanyaan di hati Grace dan teman-temannya.

Tidak ada komentar: