Minggu, 07 Maret 2010

Putri

Hari ini begitu melelahkan bagi Putri. Banyak pasien dan operasi besar yang harus ia lakukan. Belum lagi rapat-rapat dengan komite medik di rumah sakit. Sudah sejak pagi Putri berangkat ke tempat kerjanya di Rumah Sakit Bethesda dan baru pulang sore hari menjelang malam. Kebiasaannya untuk berangkat pagi-pagi sebelum jam tujuh dilakoninya demi menyandang gelar pimpinan di tempatnya bekerja. Seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik bagi anak buahnya, demikianlah prinsip yang dipegangnya. Berbeda dengan suaminya, Gunawan, yang meskipun sama-sama bekerja sebagai dokter di rumah sakit yang sama, tidaklah terlalu memegang prinsip itu. Gunawan biasanya berangkat ke tempat kerja lebih siang daripada Putri karena ia lebih memilih untuk membersihkan rumah terlebih dahulu. Prinsip yang dipegang Gunawan memang sulit sekali dipahami oleh Putri yang sangat disiplin dalah hal waktu.
Putri dan Gunawan adalah pasangan dokter bedah dan dokter anestesi yang begitu dihormati. Terutama Putri, yang merupakan satu dari segelintir perempuan yang berprofesi sebagai dokter bedah yang begitu mendedikasikan hidupnya dalam pekerjaannya. Begitu besarnya usaha dan pengorbanan Putri untuk menunjukkan bahwa dia mampu menjadi dokter bedah sehebat ayahnya, dokter Paulus, yang amat dikenal dan dihormati oleh masyarakat Yogyakarta. Tanpa disadari mungkin Putri telah menjadi sedemikian rupa terobsesi dengan pekerjaannya sehingga harus mengorbankan harta paling berharga yang dimilikinya yaitu keluarganya. Dan puncak dari semua pengorbanannya adalah Grace yang kini tengah dalam proses penyembuhan, kalau kesembuhan yang sempurna itu memang ada dalam ilmu kesehatan jiwa.
Sore itu, Putri pulang dengan segudang rasa lelah dan penat. Kepenatannya semakin bertambah saat dia melihat kondisi Grace yang masih begitu-begitu saja, tanpa ada perkembangan yang berarti. Sebagai ibu, Putri merasa telah gagal karena telah mengabaikan Grace, putri bungsunya demi mengejar ambisi pribadinya. Putri berpikir Grace sudah cukup dewasa waktu itu tanpa harus ditemani oleh dirinya dalam menjalani masa-masa transisi sehingga tanpa ada perasaan apa-apa Putri meninggalkan Grace dan Gunawan untuk pergi kursus selama tiga bulan di Belanda. Anaknya yang sulung, James, waktu itu dan sampai hari ini masih mengenyam kuliah di Jepang. Otomatis Grace yang dipikirnya sudah matang itu tidak punya teman untuk berbagi di rumah, entah bagaimana di luar rumah. Putri jarang sekali meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol dari hati ke hati dengan Grace. Dan begitu terkejutnya Putri sewaktu mengetahui kabar mengejutkan dari keluarganya sewaktu ia masih di Belanda, yaitu bahwa Grace mengalami goncangan jiwa dan sampai kabur dari rumah. Dengan perasaan yang campur aduk, Putri pun tidak menyelesaikan kursusnya di Belanda kemudian segera pulang ke Yogyakarta demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Singkat cerita, Putri mendapati Grace seperti orang linglung yang kehilangan orientasi tempat dan waktu. Semua ucapan Grace tidak nyambung. Putri begitu frustrasi dan sangat sedih melihat kondisi putrinya itu. Grace sudah dibawa untuk berobat ke dokter spesialis jiwa kenalannya dan Gunawan untuk diberi terapi obat-obatan. Putri juga sudah membawa Grace ke tempat dokter Ferry beserta istrinya, ibu Nuri, yang berpengalaman dalam melayani doa dan pelepasan. Tapi sepertinya tidak ada perkembangan yang cukup berarti. Grace waktu itu begitu meledak-ledak dalam emosi yang tidak dapat dikendalikan. Kadang-kadang begitu bersemangat tapi begitu mudah marah. Itu dulu. Sekarang, setahun sudah berlalu, Grace menjadi pemurung dan apatis. Tidak mau melakukan apa-apa. Seperti kehilangan energi untuk sekedar hidup. Menurut ilmu kesehatan jiwa, Putri mendapati bahwa Grace didiagnosa menderita gangguan manik depresif. Dan sekarang ini Grace sedang dalam episode depresi. Depresi berat yang patologis.
“Grace, ibu pulang…,” seru Putri begitu masuk ke rumah setelah memarkirkan kendaraannya di garasi. “Eh, ada Sammy dan Marry toh? Mana Ann dan Joni?”
“Mereka lagi main bola di belakang, Mbak,” jawab Marry. “Baru pulang? Ini aku bawakan tahu bakso. Sekalian nengok kondisi Grace.”
“Wah, makasih ya…” jawab Putri dengan perasaan sedikit lega karena ternyata Grace tidak sendirian. “Jadi merepotkan. Ini uang buat bayar tahu baksonya,” kata Putri sambil menyelipkan lembaran uang ke tangan Marry yang menyambutnya dengan hangat.
“Gimana Grace? Seharian ini dia ngapain aja?” tanya Putri hati-hati supaya jangan sampai menyinggung perasaan Grace yang menjadi teramat peka meskipun tampak apatis.
“Yah, tiduran aja, Mbak. Mungkin kecapekan setelah seharian kuliah,” jawab Sammy yang sudah selesai membaca koran.
“Nggak main-main sama Ann dan Joni, Grace?” tanya Putri dengan lembut sambil mendekati Grace yang masih tiduran. Grace diam saja tidak menjawab. Mungkin sedang lelap dalam tidurnya. Putri hanya menghela napas melihatnya. Sammy dan Marry pun ikut merasaka kepedihan Putri.
“Mas Gunawan belum pulang, Mbak?” tanya Marry membuka percakapan.
“Belum. Tadi ada operasi, masih belum selesai,” jawab Putri.
Putri dan Marry kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan lauk makan malam. Sammy ke luar ke halaman belakang untuk melihat Ann dan Joni yang lagi asyik bermain. Tinggallah Grace sendirian.

Tidak ada komentar: