Senin, 08 Maret 2010

Melody II

Melody tengah asyik membolak-balik halaman buku catatan kuliahnya. Sudah setahun ini ia menjalani kuliah yang terasa agak berat tapi sangat menyenangkan baginya. Banyak teman baru. Mata kuliah baru. Suasana baru. Pengalaman yang sungguh menggugah semangat akademisnya. Di sela-sela kesibukannya kuliah, Melody masih menyempatkan dirinya untuk mengajar anak-anak sekolah bahan pelajaran matematika, sesuai dengan jurusan kuliahnya, sekedar sebagai penambah pengalaman kerja dan menambah pemasukan. Melody sangat menikmati pekerjaannya itu. Begitu sibuknya Melody sehingga hampir saja ia melupakan Martin dan teman-teman dekatnya. Dan terutama Grace.
Melody hampir saja lupa akan Grace yang tadi pagi telah mengirimkan SMS anehnya kalau saja ia tidak hendak menghapus SMS-SMS yang memenuhi inboxnya. Dibacanya kembali pesan Grace tadi pagi. Pesan yang menyiratkan permohonan yang amat sangat dari seseorang yang sedang kalut dan bingung. Takut mungkin lebih tepatnya. Entah bagaimana Melody seperti merasakan ketakutan yang amat sangat saat membaca SMS dan memikirkan Grace. Grace. Teman, sahabat, dan saudara seperjuangannya. Dulu. Ya, dulu. Sekarang Melody sudah tidak pernah lagi menghubungi Grace. Entah apa sebabnya. Mungkin karena terlalu sibuk.
Sepertinya aku perlu menghubungi seseorang, pikir Melody. Bukan Martin. Tapi seseorang yang lebih dewasa dan lebih bijaksana yang dikenalnya. Mungkin Bang Immanuel bisa membantunya. Ya, Bang Immanuel pasti bisa membantu. Melody pun segera mengirim SMS ke Bang Immanuel.
“Bang, ada waktu gak? Aku mau bicara, penting, tentang Grace. Bls.”
Warung burjo di depan rumah kontrakan Bang Immanuel dipenuhi oleh anak-nak kost yang kelaparan. Melody sedang menunggu Bang Immanuel sambil mengemil gorengan dan minum segelas es teh. Ah segarnya. Tak lama kemudian, yang ditunggunya pun datang.
“Halo, Melody! Maaf ya, lama menunggu. Abang lagi mandi tadi,” seru Bang Immanuel yang baru saja keluar dari rumahnya dan segera duduk di samping Melody. “Es teh satu, Mas!” seru Bang Immanuel kepada Mas Eko sang pemilik warung.
“Ok, ada apa? Apa kabarnya Grace?” tanya Bang Immanuel sambil mengambil satu tempe goreng.
“Gak tahu Bang, aku sudah setahun ini nggak pernah lagi main sama Grace,” jawab Melody dengan sedikit rasa bersalah.
“Bukannya kalian dekat sekali? Seperti saudara kembar saja…” Bang Immanuel berkata sambil mengunyah tempe goreng. “Terus ada apa dengan Grace sekarang, kok tiba-tiba kamu ingin ngobrol tentang dia?” lanjutanya.
“Tadi pagi Grace tiba-tiba mengirimkan SMS ini, Bang,” Melody menunjukkan SMS Grace tadi pagi. Bang Immanuel membacanya sambil lalu.
“Hmmm, sepertinya Grace sedang ada masalah serius lagi,” kata Bang Immanuel setelah menelan tempe gorengnya.
“Ya, sepertinya memang begitu, Bang. Aku merasakan ada sesuatu yang mengganggunya, entah apa itu. Aku sudah mendoakannya tadi pagi, tapi sepertinya masalahnya sangatlah berat sehingga perlu pendekatan yang lebih dari sekedar mendoakannya dari jauh,” kata Melody.
Diam sejenak.
“Jadi, apa yang bisa abang lakukan?” tanya Bang Immanuel.
“Yah, mungkin Abang bisa menghubungi Grace dan bertanya kepadanya apa saja, setidaknya untuk mengetahui kabarnya saat ini.”
“Hmmm, kenapa bukan kamu saja yang menghubungi Grace?”
“Aku sudah lama nggak kontak-kontak sama Grace, Bang… Aku takut Grace nggak mau menerimaku setelah setahun ini aku nggak pernah lagi menghubunginya,” kata Melody. “Sahabat macam apa aku ini?” sambungnya lirih lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Baiklah, nanti abang akan coba hubungi Grace. Tapi abang nggak janji ya, apa Grace mau merespon apa enggak. Berdoa aja semoga Grace mau menerima telepon dari abang. Abang juga sudah nggak pernah kontak Grace lagi selama setahun ini, sejak… yah, kita semua tahu apa yang terjadi,” bang Immanuel merenung mengingat apa yang terjadi setahun yang lalu.
“Makasih, Bang…”
“Sama-sama. Makasih juga mau melibatkan abang, dek…”
Sepulang dari warung burjo, Melody masuk ke kamarnya dan mulai berdoa. “Ya Bapa, aku mohon supaya kali ini Engkau membuka hati Grace dan memulihkan hubungan persahabatan di antara kami. Dan apa pun yang sedang dialami oleh Grace, aku mohon kiranya Engkau yang menguatkan Grace dan membantunya keluar dari masalahnya itu. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.”

Tidak ada komentar: