Kamis, 05 Februari 2009

Janji Harus Ditepati

Masih di depan meja belajar yang sama. Masih pagi. Masih ada sisa semangat. Aku memutuskan untuk mulai menuliskan sesuatu, apa pun itu. Masih belum ada ide atau inspirasi yang muncul. Kuingat-ingat apa yang kuketahui dan sudah kualami. Tapi sepertinya belum ketemu yang cocok dan pas untuk kubagikan di sini.

Seharusnya pagi tadi jam 5 aku ikut doa pagi di gereja untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa aku tidak jadi berangkat, padahal aku sudah bangun jam 4 pagi. Rasanya kecewa karena tidak bisa menepati janji kepada diri sendiri. Juga janji kepada Tuhan. Sungguh memalukan.

Aku ingat seorang temanku pernah menuliskan tentang hal menepati janji, janji yang dibuat terhadap diri sendiri, bahkan terhadap Tuhan. Tulisannya agak keras dan menantang semua orang untuk menepati setiap janji yang dibuat. Kalau sampai ada yang tidak menepati, orang itu mungkin perlu berhadapan dengan temanku. Apa perlu aku berhadapan dengannya? :)

Janji harus ditepati. Sebab jika tidak, kita masih punya hutang yang belum lunas. Aku masih punya kesempatan untuk melunasi hutangku minggu depan dan minggu depannya lagi, sampai waktu yang tidak terbatas. Aku beruntung karena masih ada lain kali, masih ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Berbeda dengan Pribadi TUHAN. Setiap janji yang diucapkanNya selalu ditepati dan digenapi. Dia tidak pernah ingkar janji. Meskipun kita sering melupakan janjiNya. Dia tetap setia menepati janji seturut dengan waktuNya. Sungguh beruntung kita punya Tuhan yang seperti Dia. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita bersyukur dan senantiasa mempersembahkan pujian syukur padaNya. Ucap syukurlah senantiasa untuk setiap janjiNya yang selalu ditepati. Amin.

Tidak ada komentar: