Rabu, 18 November 2009

Aloysius, Temanku


Baru saja aku mendapat telepon dari seorang teman yang lama tidak bertemu. Namanya Aloysius. Orang asli Papua. Sekarang sudah jadi PNS di Papua sana. Dulu sekitar tahun 2004, waktu aku sedang manik ringan, aku berkenalan dengannya di toko buku Metanoia. Entah apa yang mendorongku untuk mengenalnya, mungkin karena kondisi manik itu membuatku jadi merasa sangat pe de dan berasa seperti orang terpenting di dunia. Perkenalan yang singkat padat dan jelas. Kami sampai bertukar nomor hp dan alamat. Bahkan, Aloysius ini sempat main ke rumah sampai 2 kali. Orangnya sangat baik dan sopan, terpelajar, meskipun ada gap budaya antara aku yang orang jawa dengan dia yang orang Papua. Aloysius selalu memanggilku dengan sebutan 'kawan'. Dia sering SMS dan kadang miscal aku di saat2 tidak terduga. Pada awalnya aku merasa biasa2 saja, tapi lama-kelamaan agak terganggu juga karena aku kesulitan menangkap maksud bicaranya dan gaya bahasanya yang Papua banget. Seandainya tidak ada gap budaya, mungkin aku bakal bisa lebih enjoy dan asyik ngobrol dengannya. Tapi sudahlah. Aku tidak begitu menyesali perkenalanku dengan Alysius ini. Yang aku sesali adalah kenapa aku nggak bisa jadi teman yang lebih baik dan bertanggung jawab. Karena bukan Aloysius yang berkenalan duluan, melainkan aku duluan yang berkenalan dengannya lepas itu dalam kondisi manik atau tidak normal 100%. Aku cuma bisa berdoa kiranya Tuhan memberkati Aloysius selalu dan di manapun dia berada, dia selalu menjadi berkat. Maafkan aku, Tuhan, untuk ketidakbertanggungjawabanku terhadap temanku ini.

Tidak ada komentar: