Kamis, 19 November 2009

Tribute to My Brother


Saat aku menulis ini, kakakku Yoyo sedang sakit. Nggak tahu sebabnya apa. Ketika ditensi, tekanan darahnya sampai 131/85, sudah tergolong tinggi. Entah alatnya yang nggak valid, entah emang segitu tekanan darahnya. Ibuku bilang, keturunannya mbah Kasmolo emang punya bakat tekanan darah tinggi. Ibuku salah satunya. Tadi pagi aja ditensi sampai 170an. Wew... kuq bisa begitu ya? Ini namanya berkat atau kutuk? Ibuku menolak menyebutnya sebagai kutuk. Tapi menurutku, segala jenis penyakit keturunan itu termasuk kutuk yang harus diputus, entah dengan cara apa. Kalau berupa penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dkk, maka cara termudah adalah dengan memodifikasi gaya hidup dan tetap bersandar pada TUHAN dan hikmatNya. Kalau berupa alergi atau hipersensitivitas, cara termudah adalah dengan menghindari faktor2 pencetus. Kalau berupa penyakit aneh yang secara medis nggak ada penjelasannya, maka cukup didoakan dalam nama Tuhan Yesus. Intinya, mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Kembali ke kakakku. Yoyo bisa dibilang gudangnya alergi. Segala macam alergi dia punya. Alergi debu, alergi dingin, alergi makanan (usus). Waktu di Jepang dia jarang meler atau umbelen karena udara di Jepang lebih bersih daripada di Indonesia. Begitu kembali ke Indonesia, kembali deh sentrap sentrupnya kumat lagi. Dari kecil sampai sekarang selalu seperti itu. Ke mana-mana selalu bawa kacu (sapu tangan). Bisa nggak ya alergi disembuhkan? Kalau berdasarkan ilmu medis yang ada sekarang, masih belum didapati alergi yang sembuh sempurna. Adanya adalah terkendali. Eh, itu diabetes ding ya... entahlah, aku bingung... apa kata Firman Tuhan ya? Bisakah alergi disembuhkan total? Apakah alergi itu termasuk penyakit? Atau itu seperti duri dalam daging yang nggak bisa dihilangkan, mirip seperti yang dialami Paulus, sehingga yang diperlukan adalah cukup 'berdamai' dengannya?

Padahal Yoyo itu cukup fit lho. Hobbynya jalan2 dan adventuring. Waktu di Jepang aja dia sering hiking bareng Nobita, temannya. Bahkan waktu sudah di Jogja pun dia sering jalan2 lintas alam bersama teman2nya. Hobby jalan2 ditunjang dengan hobby potrat potret. Klop deh. Aku berdoa supaya dalam usianya yang semakin bertambah ini, di mana kekuatan fisik berangsur-angsur menurun, Yoyo tetap fit dan bisa menikmati hidupnya meskipun harus menanggung alergi seumur hidup. Bukankah motto hidupnya Yoyo itu "hati yang gembira adalah obat yang manjur"? Yah, tetaplah bergembira, Yoyo... Hehe...

Peace!!!

4 komentar:

Ik@ MM mengatakan...

hehe kuliah d Jepang ya mas Yoyo mb,.,,, kok face na koyok wong Jepang juga hehe

mimi imut mengatakan...

hehe... iya... mungkin ini yang dinamakan adaptasi morfologis... hihi...

Ik@ MM mengatakan...

hum aku neng jogja uh.. yo mukae koyok gene.....

mimi imut mengatakan...

hehe... disyukuri aja...