Minggu, 11 Mei 2008

Bingung dan Khawatir

Saat aku nulis ini, aku sedang agak2 pusing karena sebab2 yang nggak jelas... aku habis baca2 selayang pandang (belum bener2 baca, baru liat doank) buku2 yang aku punya untuk melihat gambaran tentang koas di jiwa besok... Semakin dibaca malah semakin nggak ngerti, semakin dilihat malah semakin bingung... nggak juga ding, ngerti dikit2 tapi masih belum tahu besok prakteknya gimana... siap nggak siap kalo sudah waktunya ya harus maju apapun yang terjadi... seberapa yang ada padaku akan kubawa untuk menjadi perlengkapanku besok... yang bikin aku agak bingung adalah poin di mana aku harus menilai pasien secara ilmiah... maksudnya mungkin supaya aku bisa bersikap objektif terhadap pasien tanpa terlalu dipengaruhi perasaan atau emosi pribadi... lebih tepatnya, bersikap agak dingin atau lebih skeptif dikit terhadap pemikiran dan perasaan pasien... duh, gimana ya? Lalu bagaimana dengan berempati terhadap pasien? Bukannya bakalan bertolak belakang tuh... antara bersikap ilmiah dengan bersikap empati... mana yang lebih penting? Mana yang harus aku lakukan terlebih dahulu? Bisakah keduanya aku lakukan secara berdampingan? Bisakah keduanya menjalin harmoni? Apakah keduanya bersifat kontradiktif atau malah saling melengkapi? Yang mana nih, (Tuhan)? Yang mana yang harus kupilih? Mendahulukan pasien atau mendahulukan kepentinganku? Jadi inget obrolan dengan Yoanito nih, (Bapa)... seandainya Yoanito belum pulang, aku bakalan tanya hal ini dengan lebih mendetail... hmmm... menurutMu bagaimana, Tuhan? Bagaimana aku harus bersikap sebagai seorang koas dan juga sebagai anakMu dan sahabatMu? Beri aku hikmat ya... soale aku kekurangan hikmat nih... terus untuk urusan kekakuanku dalam pergaulan sosial, aku mau berserah dan belajar melangkah, melakukan bagianku dan menyerahkan bagianMu kepadaMu... berkali-kali aku bilang begitu dalam kekhawatiranku, tinggal aku lakukan dan praktekkan saja besok... ya, besok... to be or not to be... (nyambung gak sih? hehe)

Satu lagi kekhawatiranku, gimana besok kalo ketemu sama Pak Inu, psikiater pertamaku yang bikin aku marah2 karena nggak bisa berempati saat aku lagi "tinggi"? Karena aku pernah berpengalaman menjadi pasien, maka aku tahu bagaimana rasanya tidak dipahami atau tidak mendapat empati yang cukup oleh dokter yang menangani... Lebih baik ditangani oleh dokter yang kurang kompeten tapi mampu berempati daripada dokter yang mumpuni tapi nggak bisa berempati babar blas... lebih baik lagi, ditangani oleh dokter yang hebat & pintar serta bisa berempati dengan cukup baik terhadap pasien... Hmmm... bisa nggak ya aku membuang balok di mataku sendiri? Supaya nantinya aku bisa membuang selumbar di mata orang lain dengan jelas... Hmmm...

Tidak ada komentar: